Kenapa sih kita harus membahas puasa? Bukankah puasa merupakan tradisi kuno yang sudah berjamur dan sudah menjadi barang basi? Bukankah masih banyak hal-hal menarik yang perlu dibicarakan selain membicarakan puasa? Tidakkah lebih asyik berbicara soal politik, soal ekonomi, soal peradaban, soal kedamaian dan sebagainya?
Oh, tentu tidak seperti itu. Puasa memang sudah tua. Puasa memang barang yang menjadi kuno karena ketuaan umurnya, tetapi puasa bukanlah barang basi; pembicaraan tentangnya pun tidak menjadi basi.
Ada begitu banyak hal di dunia ini yang menjadi semakin mahal dan menarik karena ketuaan umurnya. Keramik misalnya. Semakin tua umurnya, semakin banyak kolektor yang mencarinya. Mereka mencari walaupun harus mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Padahal, dengan uang sebanyak yang dikeluarkan itu, belum tentu mereka dapat menemukan keramik-keramik tua yang mereka cari. Tapi mereka terus saja mencarinya. Sampai akhirnya menemukannya. Kadang mereka mencarinya dengan memakai jasa para penyelam. Seringnya sih mereka menemukannya. Tapi, tahukah kita, bahwa ternyata banyak juga yang hanya menemukan pecahan-pecahan keramik tersebut. Tahu yang terjadi setelah itu? Walau mendapatkan pecahannya, keramik tersebut masih laku mahal untuk dijual. Makanya tak jarang orang menjadi kaya mendadak gara-gara menemukan keramik peninggalan kerajaan-kerajaan Indonesia jaman dulu tersebut. Ambil saja anggur menjadi contoh satu lagi. Semakin lama anggur disimpan, semakin menarik dan mahal harganya. Anggur yang berumur ratusan tahun, adalah anggur yang tak ada dua rasa dan harganya. Rasanya jangan tanya, karena begitu sulit menceritakannya; harganya pun tak kira-kira, karena tak banyak yang dapat membayarnya. Dan banyak lagi yang lainnya.
Puasa memang tidak sama dengan keramik peninggalan kerajaan apalagi dengan bir. Puasa berbeda dengan dua hal tersebut. Tetapi, dalam sifat dan kemewahannya, puasa mempunyai sifat yang hampir sama. Puasa adalah kebiasaan lama manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Kemudian dikukuhkan oleh Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad saw. Puasa kemudian dijalankan oleh umat Islam secara turun-temurun. Sejak diberlakukannya oleh Islam, puasa menjadi hal yang tak pernah dilupakan oleh umatnya. Ada yang melakukannya setiap Senin-Kamis. Ada yang melakukannya setip bulan tiga hari. Ada yang melakukannya setiap hari diselingi dengan hari yang lain, ada yang melakukannya hanya setiap bulan, yaitu di bulan Ramadhan. Maka, puasa begitu lekat dengan kehidupan umat Islam; di benak, dan di perilaku. Nah, dengan demikian, puasa tidak lagi menjadi barang basi, karena puasa selalu hangat dilaksanakan dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Para ilmuwan pun meneliti dari waktu ke waktu manfaat puasa. Ada banyak penemuan setelah itu. Ada yang menemukan bahwa puasa dapat menyehatkan mental. Ada yang mengatakan bahwa puasa dapat mencegah gangguan kejiwaan. Ada banyak juga yang menyatakan bahwa puasa ternyata sangat baik untuk kesehatan tubuh dan daya tahannya. Penelitian-penelitian seperti ini tidak terhenti di satu masa atau kurun manapun. Selalu saja menjadi aktual, dan selalu saja menjadi baru bersamaan dengan timbulnya begitu banyak jenis penyakit baru. Oleh karena itu, puasa kemudian menjadi sesuatu yang sangat berharga dan dengan demikian menjadi hal yang menyenangkan.
Di luar semua itu, puasa lebih memberikan hal-hal yang bersifat memabukkan: ketagihan dan keindahan. Namun, sifat mabuk yang diberikan oleh puasa tidak sama dengan anggur atau bir. Sifat mabuk yang diberikan puasa atau ketagihan karena puasa lebih karena keindahan dan kenikmatan yang diberikannya menyentuh ujung hati para pelakunya. Sehingga para pelaku puasa ingin terus melakukannya.
Oh, tentu tidak seperti itu. Puasa memang sudah tua. Puasa memang barang yang menjadi kuno karena ketuaan umurnya, tetapi puasa bukanlah barang basi; pembicaraan tentangnya pun tidak menjadi basi.
Ada begitu banyak hal di dunia ini yang menjadi semakin mahal dan menarik karena ketuaan umurnya. Keramik misalnya. Semakin tua umurnya, semakin banyak kolektor yang mencarinya. Mereka mencari walaupun harus mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Padahal, dengan uang sebanyak yang dikeluarkan itu, belum tentu mereka dapat menemukan keramik-keramik tua yang mereka cari. Tapi mereka terus saja mencarinya. Sampai akhirnya menemukannya. Kadang mereka mencarinya dengan memakai jasa para penyelam. Seringnya sih mereka menemukannya. Tapi, tahukah kita, bahwa ternyata banyak juga yang hanya menemukan pecahan-pecahan keramik tersebut. Tahu yang terjadi setelah itu? Walau mendapatkan pecahannya, keramik tersebut masih laku mahal untuk dijual. Makanya tak jarang orang menjadi kaya mendadak gara-gara menemukan keramik peninggalan kerajaan-kerajaan Indonesia jaman dulu tersebut. Ambil saja anggur menjadi contoh satu lagi. Semakin lama anggur disimpan, semakin menarik dan mahal harganya. Anggur yang berumur ratusan tahun, adalah anggur yang tak ada dua rasa dan harganya. Rasanya jangan tanya, karena begitu sulit menceritakannya; harganya pun tak kira-kira, karena tak banyak yang dapat membayarnya. Dan banyak lagi yang lainnya.
Puasa memang tidak sama dengan keramik peninggalan kerajaan apalagi dengan bir. Puasa berbeda dengan dua hal tersebut. Tetapi, dalam sifat dan kemewahannya, puasa mempunyai sifat yang hampir sama. Puasa adalah kebiasaan lama manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Kemudian dikukuhkan oleh Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad saw. Puasa kemudian dijalankan oleh umat Islam secara turun-temurun. Sejak diberlakukannya oleh Islam, puasa menjadi hal yang tak pernah dilupakan oleh umatnya. Ada yang melakukannya setiap Senin-Kamis. Ada yang melakukannya setip bulan tiga hari. Ada yang melakukannya setiap hari diselingi dengan hari yang lain, ada yang melakukannya hanya setiap bulan, yaitu di bulan Ramadhan. Maka, puasa begitu lekat dengan kehidupan umat Islam; di benak, dan di perilaku. Nah, dengan demikian, puasa tidak lagi menjadi barang basi, karena puasa selalu hangat dilaksanakan dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Para ilmuwan pun meneliti dari waktu ke waktu manfaat puasa. Ada banyak penemuan setelah itu. Ada yang menemukan bahwa puasa dapat menyehatkan mental. Ada yang mengatakan bahwa puasa dapat mencegah gangguan kejiwaan. Ada banyak juga yang menyatakan bahwa puasa ternyata sangat baik untuk kesehatan tubuh dan daya tahannya. Penelitian-penelitian seperti ini tidak terhenti di satu masa atau kurun manapun. Selalu saja menjadi aktual, dan selalu saja menjadi baru bersamaan dengan timbulnya begitu banyak jenis penyakit baru. Oleh karena itu, puasa kemudian menjadi sesuatu yang sangat berharga dan dengan demikian menjadi hal yang menyenangkan.
Di luar semua itu, puasa lebih memberikan hal-hal yang bersifat memabukkan: ketagihan dan keindahan. Namun, sifat mabuk yang diberikan oleh puasa tidak sama dengan anggur atau bir. Sifat mabuk yang diberikan puasa atau ketagihan karena puasa lebih karena keindahan dan kenikmatan yang diberikannya menyentuh ujung hati para pelakunya. Sehingga para pelaku puasa ingin terus melakukannya.
Dari tetangga sebelah
Memang indah berpuasa itu
BalasHapus